Sikap Superioritas Dalam Beragama

 

         Salah satu kewajiban utama dalam agama islam adalah untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Kita semua tahu, bahwa islam mewajibkan semua penganutnya untuk mengabdikan diri kepada tuhan melalui komunitas, sehingga kebaikan tidak boleh hanya disimpan untuk diri sendiri, namun kita juga harus berusaha untuk memastikan kebenaran dan kebaikan terus dilaksanakan dan berjalan di muka bumi, dan meminimalisir kejahatan yang terjadi di sekitar kita.

         Salah satu media untuk mencapai tujuan ini adalah dakwah. Dakwah dapat dilakukan oleh semua orang, tergantung kapasitas ilmu masing-masing. Tujuan dakwah adalah untuk saling mengingatkan satu sama lain dalam kebaikan dan menasihati orang lain jika berbuat hal yang dilarang dalam agama.

         Namun, metode dakwah ini seringkali disalahgunakan oleh beberapa orang untuk menjadi media pemuas ego mereka, dan hanya menjadi penegas kedudukan mereka sebagai orang yang superior. Beberapa orang merasa lebih baik daripada yang lain, merasa lebih berilmu, dan karena itu, cara dakwah yang mereka lakukan tidak sesuai dengan tuntunan islam.

         Perlu diingat bahwa, didalam agama Islam, tidak pernah ada orang yang lebih tinggi kedudukannya dibanding yang lain. Kedudukan seseorang dinilai dari seberapa bertaqwanya seseorang, dan taqwa adalah suatu parameter yang tidak bisa diukur, hanya bisa ditentukan oleh Allah SWT. Jadi meskipun seorang ulama dan orang yang taat ibadah sekalipun, tidak ada yang tau kedudukannya dan kemuliaannya melainkan Allah SWT.

         Berbagai fenomena yang terjadi di kalangan umat islam sendiri patut ditinjau ulang. Banyak sekali dakwah-dakwah yang dilakukan berisi kemarahan dan kebencian terhadap pihak lain, bahkan terkadang hanya dipicu perbedaan pendapat. Tentu saja tulisan ini tidak ingin menyalahkan salah satu pihak, hanya saja rasanya semua kalangan perlu selalu diberi pengingat akan bahaya ego dalam beragama.

         Salah satu konsep penting dalam berdakwah adalah ketika kita mengoreksi seseorang yang melakukan suatu kesalahan, kita tidak boleh membenci orangnya, namun yang kita benci adalah perbuatannya. Mungkin ini merupakan suatu konsep yang simple, namun pada praktiknya sangat sulit untuk diterapkan. Kerap kali kita kebingungan membedakan dua hal tersebut dan sikap yang sesuai dengannya. Apalagi jika ada seseorang berbuat kesalahan yang merugikan diri kita sendiri, sangat sulit untuk tidak membuat emosi kita ikut dalam situasi tersebut. Namun, hal yang aneh adalah, meskipun tidak merugikan dirinya sendiri, terkadang beberapa orang atau kelompok merasa begitu tersinggung ketika ada pihak lain yang melakukan kesalahan atau hal yang dilarang dalam agama. Mereka mulai “menasihati” dengan kemarahan dan bahkan mengutuk pihak tersebut. Disinilah kita harus berhati-hati, karena sikap superioritas dapat tanpa sadar bekerja dalam situasi seperti itu, dengan kedok membela tuhan, namun sebetulnya hanya untuk menegaskan kelebihan mereka dibanding pihak lain tersebut.

         Sikap berdakwah dalam islam sudah jelas, hanya boleh melalui jalan hikmah, yaitu diskusi konstruktif, serta melalui sikap yang lembut dan penuh kasih sayang. Hal iniliah yang diperintahkan Allah kepada Nabi Musa saat berdakwah kepada Firaun, seperti yang diabadikan dalam Quran surah Thaha. Jika kepada firaun saja harus bersikap lembut, apalagi terhadap saudara sesama muslim kita, kepada keluarga dan teman-teman kita, maupun teman-teman non muslim

         Firaun merupakan salah satu antagonis terburuk yang digambarkan dalam alquran. Ia merupakan sosok dengan ego yang luar biasa, seorang yang sombong, pembunuh masal, dan menyatakan diri sebagai tuhan, dengan melecehkan ajaran yang dibawa oleh nabi musa a.s. Bahkan dengan dosa dan sikapnya yang luar biasa jahat tersebut, instruksi dari Allah terhadap nabi musa tetap jelas, berdakwah dengan tulus dan kelemah lembutan, karena hanya dengan cara itulah dakwah dapat disampaikan dengan baik.

         Karena jika pada akhirnya Firaun memutuskan untuk bertaubat dengan penuh ketulusan, ia akan seketika memiliki derajat yang tinggi disisi Allah, meskipun dosa-dosa yang telah ia lakukan di masa lalu. Inilah konsep yang sangat indah dalam islam, yang memastikan bahwa tidak ada yang tahu akhir dari setiap orang, bisa jadi baik ataupun buruk. Islam adalah agama yang memuliakan setiap manusia, dan hanya menghargai ketulusan yang datang dari hati, tidak pernah memutus harapan bagi siapapun orang itu, seburuk apapun perangai dan perbuatannya. Islam tidak pernah mencap seseorang itu baik ataupun jahat, sebelum akhir hayatnya. Konsep-konsep yang ada dalam islam adalah perbuatan-perbuatan baik atau buruk disisi Allah, dan hanya itulah materi yang harus pendakwah sampaikan.

         Salah satu kesalahpahaman terbesar juga adalah salah menafsirkan kedudukan kita dan tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Kerap kali kita menukar posisi kita sendiri dengan tuhan, seakan-akan kita tahu apakah seseorang akan ada di surge dan neraka, kita terobsesi memprediksi akhir dari setiap orang, sehingga kita sendiri pun lupa bahwa itu hanyalah hak dari Allah SWT untuk menentukan siapa yang paling berhak masuk ke surge dan nerakanya. Keputusan Allah SWT. merupakan keputusan yang paling adil, sehingga dapat dipastikan tidak ada seorang pun yang merugi akan keputusannya, semuanya akan setara dengan usaha yang mereka lakukan untuk mendekatkan diri kepada tuhan semasa hidup.

         Allah terkadang marah kepada pihak tertentu, Allah juga menghakimi pihak tertentu di dalam Alquran. Namun, hal yang selalu kita lupa adalah bahwa Allah marah karena ia berhak untuk marah. Posisi Allah sebagai tuhan membuatnya berhak untuk menegakkan hukumnya. Kita tidak pernah diberi hak untuk marah kepada orang lain. Kita tidak pernah diberi hak untuk menghakimi orang lain. Kita tidak pernah diberi hak untuk merasa lebih baik dari orang lain. Satu-satunya tugas kita adalah menyampaikan pesan-pesan dalam Alquran mengenai hal apa yang baik dan buruk yang dapat kita lakukan. Tugas kita adalah menyampaikan dengan jalan hikmah dan kasih sayang. Allah menghakimi  seseorang karena ia berhak untuk menjadi hakim, kita sering tidak sadar menukar posisi kita dengan tuhan, sehingga kita bertingkah laku superior layaknya tuhan terhadap orang lain.

         Salah satu contoh paling jelas dan kita semua tahu dari Alquran adalah, kisah iblis. Iblis dahulu adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya disisi tuhan. Coba tebak apa yang membuat iblis derajatnya jatuh menjadi makhluk yang paling rendah? Iblis merasa lebih baik daripada adam. Ia menghakimi adam sebagai makhluk yang inferior, dan merasa tersinggung ketika tuhan memerintahkannya untuk bersujud. Jangan sampai fenomena yang terjadi dalam kisah iblis ini terulang dalam diri manusia saat ini. Bisa saja sikap dan perangai baik yang ditampakkan di depan orang lain, hanyalah merupakan topeng untuk menutupi sikap ego yang dimiliki iblis, yang bisa jadi tertanam dalam diri kita. Sikap ego ini adalah salah satu dosa yang paling tersembunyi bahkan sulit disadari, dan oleh karena itu paling berbahaya.

         Sudah saatnya kita bermuhasabah diri dan berintrospeksi, tidak perlu saling menyalahkan satu sama lain, namun kita harus melihat ke diri sendiri. Masih adakah benih-benih dari sikap iblis dalam diri kita? Ketika kita melaksanakan seluruh kewajiban agama, apakah itu berasal dari ketulusan dan keikhlasan kita dalam beragama, atau hanya untuk memuaskan ego kita agar terus merasa superior disbanding orang lain? Semoga kita semua dilindungi dari sikap superioritas dalam beragama, karena sikap yang tersembunyi adalah hal yang membuat kita menjadi sama dengan musuh abadi manusia, yaitu iblis.



Komentar

Postingan Populer