Stoisisme dan Disiplin Diri

   

     

Beberapa bulan lalu saya sempat membaca sebuah buku dari Henry Manampiring yang berjudul Filosofi Teras. Buku itu secara ringkas membahas sebuah aliran filsafat yang berdiri lebih dari 2.000 tahun yang lalu yaitu stoisisme. Stoisisme adalah gaya hidup yang rasanya masih sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang, meskipun asal muasal filsafat ini sudah sangat kuno. Filosofi ini juga bukan merupakan sistem kepercayaan, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi ini bisa kita dapatkan dalam banyak agama di dunia, termasuk agama kita sendiri.

Pada dasarnya filosofi ini memiliki dua premis penting, yaitu hidup selaras dengan alam dan dikotomi kendali. Hidup selaras dengan alam artinya kita sebagai manusia memiliki peran tersendiri sebagai makhluk yang menjadi bagian dari alam semesta yang besar ini. Kita harus mencari apa anugerah yang kita miliki yang membedakan kita dengan makhluk yang lain. Anugerah itu adalah nalar. Oleh karena itu, sebagai manusia kita harus bertindak dengan menggunakan nalar dalam kehidupan sehari-hari. 

Sebagai contoh pengaplikasian yang praktis dari prinsip ini adalah, ketika kita bertemu dengan orang yang membuat kita kesal. Jika kita bertindak menggunakan emosi tanpa nalar, maka dengan cepat kita akan marah-marah kepada orang tersebut. Padahal, jika kita berhenti sejenak dan lebih mendengarkan nalar kita sendiri, seharusnya kita sadar bahwa tidak ada manfaat yang bisa kita ambil dari marah-marah yang hanya menghabiskan energi kita sendiri. Hidup selaras dengan alam juga bisa berarti menerima segala hal yang terjadi dalam kehidupan kita tanpa mengeluhkannya. Karena menurut filosofi ini, segala hal yang terjadi merupakan kehendak dari alam dan hidup selaras dengan alam berarti mengikhlaskan segala hal yang dikehendaki oleh alam.

Dikotomi kendali secara singkat artinya adalah pembagian hal-hal yang bisa kita kontrol dan yang tidak bisa kita kontrol. Pada dasarnya, filosofi ini mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak bisa mendapatkan kebahagiaan dari hal yang tidak bisa kita kontrol. Contoh hal yang tidak bisa kita kontrol adalah persepsi orang lain, kekayaan, dan kesehatan. Meskipun kita berpikir bahwa kita bisa mendapatkan kekayaan dengan usaha kita sendiri, tapi untuk mempertahankan kekayaan tersebut, bisa jadi merupakan hal yang tidak bisa kita kontrol karena banyak kemungkinan hal yang bisa terjadi. Begitu pula dengan kesehatan, meskipun kita bisa menerapkan pola hidup sehat, tapi sehat atau tidaknya kita adalah hal yang tidak bisa kita kontrol. Hal yang bisa kita kontrol adalah persepsi dan pikiran kita sendiri. Menurut filosofi ini, kebahagiaan merupakan state of mind dan berasal dari pikiran kita sendiri, bukan dari hal-hal eksternal di luar diri kita.

Sudah cukup membahas mengenai filosofi ini, karena topik yang ingin saya bahas adalah ketika kita ingin mempraktikkan filosofi ini di kehidupan kita. Stoisisme ini simpel, tapi tidak membuat ini mudah untuk dipraktekkan. misalnya pada premis pertama, hidup dengan nalar. Penulis Mark Manson dalam bukunya Everything is F*cked  mengklasifikasikan secara figuratif bahwa otak kita menjadi otak pemikir dan otak perasa. Ia menganggap alasan bahwa kita sulit untuk menerapkan disiplin diri karena kita menganggap bahwa otak pemikir dapat mengendalikan otak perasa, sedangkan faktanya justru sebaliknya. 

Segala yang mengendalikan tindakan kita adalah otak perasa (emosi) bukan otak pemikir (nalar). Kita tahu bahwa belajar lebih bermanfaat ketimbang bermain games tapi kita tetap melakukannya. Kita tahu bahwa kita harus menyelesaikan tugas-tugas sekolah kita agar tidak menumpuk tapi kita tetap menundanya. Kita tahu bahwa marah-marah dan berkata kasar itu tidak ada manfaatnya, tapi kita tetap melakukannya. Mengapa hal tersebut terjadi? karena emosi kita menginginkannya. Emosi mengendalikan tindakan kita, bukan nalar. Justru ketika emosi kita ingin melakukan sesuatu, nalar kita membantu merasionalisasikan tindakan yang diperbuat.

Satu-satunya solusi untuk disiplin diri adalah dengan berdamai dengan emosi kita sendiri. Emosi kerap kali menjerumuskan kita untuk bertindak sesuatu yang tidak rasional, akan tetapi kita tetap bisa menyadari kapan emosi kita mengambil alih. Sejauh ini, cara yang paling ampuh menurut berbagai ahli untuk disiplin adalah dengan menggunakan reward setelah kita melakukan sesuatu yang tidak disukai otak perasa kita. Dengan adanya reward, otak perasa kita dapat terkelabui dengan membayangkan kesenangan yang didapat setelah melakukan hal yang dirasa memberatkan.

Filosofi ini adalah salah satu filosofi yang dinilai ideal, namun sulit dipraktekkan secara sempurna oleh manusia, yang secara alami bersifat tidak ideal. Dengan berbagai kesulitannya, banyak nilai-nilai yang terkandung dalam stoisisme yang bisa kita amalkan secara perlahan. Salah satu prinsip dalam mempelajari filosofi ini juga adalah kita tidak boleh melabeli diri kita sebagai seorang praktisi stoa,  atau seseorang yang mengamalkan stoisisme, melainkan setiap orang yang berusaha mempraktikkan stoisisme adalah seorang prokopton, yaitu seseorang yang terus belajar.

 


Komentar

Postingan Populer